Gelap
Waktu terus habis, bahkan saat kita mencari tontonan. Kesadaran itu kadang lebih mudah ditemani tawa.
Siabah mengolah keanehan hidup menjadi karya yang bisa dipakai. Lewat permainan kata, ilustrasi, simbol, dan eksplorasi visual, kami bercerita tentang yang absurd, mistik, lokal, nerdy, gelap, dan dekat dengan keseharian.
Ada pikiran yang datang saat warung hendak tutup: kita ini sedang menuju sesuatu, atau cuma mengulang hari dengan kata sandi berbeda? Besok paginya tetap harus bekerja. Pertanyaannya ikut, seperti struk yang tertinggal di saku.
Pikiran semacam itu bisa menjadi permainan kata, ilustrasi, karakter, simbol, atau bentuk abstrak. Ada karya yang seluruhnya berupa tulisan. Ada yang bercerita hanya lewat rupa. Ada pula yang mempertemukan keduanya di atas kaos.
Referensinya bisa datang dari buku filsafat, cerita orang tua, layar terminal, atau celetukan yang lebih tajam daripada satu bab teori. Kami merangkainya sambil mengingat bahwa banyak membaca pun tidak membuat kami kebal salah.
Setiap desain punya cerita, perasaan, atau pertanyaan di belakangnya. Cerita itu tidak harus tertulis di kaos atau berakhir pada satu tafsir. Kalau yang sampai hanya senyum kecil, atau Anda sekadar suka gambarnya, itu juga berarti.
“Kadang lewat tulisan. Kadang cukup lewat rupa.”— Catatan dari meja Siabah
Bisa terdengar seperti si abah. Bisa juga seperti pertanyaan dari teras gelap: siapa, Bah? Kami menyukai jarak kecil antara akrab dan asing itu. Seperti mengenali suara, lalu lupa dari mimpi yang mana.
Rumah karya kami meminjam dunia percetakan: tinta hitam, kertas salinan, garis buku besar, dan cap yang tampak sangat yakin. Karya di dalamnya bebas menjelajah gaya, warna, dan bentuk sesuai ceritanya. Tata letak toko tetap perlu antre.
Tujuh sumber cerita, dari ingatan kampung sampai layar terminal. Masing-masing bisa hadir sebagai kata, gambar, atau keduanya.
Waktu terus habis, bahkan saat kita mencari tontonan. Kesadaran itu kadang lebih mudah ditemani tawa.
Kehendak bebas, makna, dan pertanyaan siapa yang harus mencuci gelas. Teori akhirnya pulang ke dapur.
Cerita turun-temurun, larangan selepas senja, dan bunyi dari ruang kosong. Kami mendengar sebelum menyimpulkan.
Hidup meminta tujuan. Formulir meminta huruf kapital. Keduanya menolak kolom kosong.
Bahasa rumah, obrolan warung, dan ingatan kampung. Hal-hal dekat yang tak habis dibaca.
Kunci hilang, nasi dingin, gajian yang singgah sebentar. Epik kecil tanpa musik latar.
Terminal, gim, dan mesin yang meminta restart. Manusia kadang perlu hal serupa, tetapi besok tetap Senin.
Tangkap cerita, rasa, atau pertanyaan dari bacaan, jalanan, mimpi, dan obrolan. Sebelum lupa, atau merasa terlalu pintar.
Jelajahi kata, ilustrasi, simbol, atau bentuk abstrak. Tinjau lagi: apakah rupa dan ceritanya terasa saling menghidupkan?
Cetak saat dipesan. Ide boleh menumpuk; kaos tak perlu ikut memenuhi gudang.
Kirim ke alamat pemesan. Nomor resi membantu melacak perjalanan yang tak bisa ditebak lewat firasat.
Sasaran lelucon kami adalah kepastian yang kelewat percaya diri, sistem yang ganjil, dan kekeliruan sendiri. Orang yang sedang kesulitan tak perlu menjadi bahan bakar tawa. Kalau lelucon kami meleset, kami perlu mendengar.
Produksi per pesanan membantu kami membatasi stok. Kami mengusahakan karya yang menarik dilihat dan terbuka untuk ditafsirkan, pada kaos yang senang dipakai ulang. Usaha kecil ini masih belajar; cap di halaman depan bukan sertifikat kesempurnaan.